Beberapa hari lalu, Komarudin Hidayat menulis sebuah artikel di harian Kompas bertajuk Keislaman Indonesia. Tulisan tersebut mengutip sebuah penelitian sosial bertema How Islamic are Islamic Countries yang dilakukan beberapa peneliti dari The George Washigton University pada tahun 2010 (betul… 2010… ini memang bukan barang baru). Menurut para peneliti tersebut, Islamicity Index yang digunakan menunjukkan seberapa tingkatan sebuah negara telah menjalankan nilai-nilai yang diajarkan oleh Islam. Hasil penelitian ini menempatkan Selandia Baru sebagai negara dengan Islamicity Index tertinggi, disusul oleh negara-negara ‘maju’ lainnya. Sementara ‘prestasi’ tertinggi dari negara-negara OIC (Organisation of Islamic Cooperation) diraih oleh Malaysia pada posisi ke-38. Sedangkan Indonesia terpuruk pada posisi ke-140.

Saya sangat setuju bahwa penelitian ini mengindikasikan bahwa negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim seperti Indonesia memiliki banyak sekali pekerjaan rumah yang harus dibereskan. Tetapi apakah betul bahwa penelitian semacam ini dapat digunakan sebagai indikator bahwa negara-negara yang dikatakan ‘maju’ (the so called, developed countries) adalah lebih islami ketimbang negara-negara Muslim seperti Indonesia?

Perkara Azas

Penelitian ini mengklaim mengazaskan penelitiannya berdasarkan Islamic fundamental concepts. Bahkan Pak Komarudin pun mengatakan bahwa ajaran dasar Islam yang dijadikan indikator dimaksud diambil dari Al Quran dan hadits. Dalam laporan hasil penelitiannya tersebut, Scheherazade S. Rehman dan Hossein Askari menjelaskan bahwa ada 4 fundamental concepts yang mendasari sistem nilai dalam Islam: walayahh, karamah, meethaq, dan khilafah. Jujur saja, ini baru pertama kalinya saya mendengar bahwa 4 hal ini merupakan the fundamental concepts dalam Islam. Dan mungkin bagi sebagian besar Muslim, beberapa istilah ini asing bagi mereka.

Mari kita lihat bersama apa sesungguhnya yang dijadikan oleh Rasulullah SAW sebagai fundamental concept yang beliau pegang teguh ketika menyampaikan ajaran Islam. Rasulullah SAW berdakwah selama kurang lebih 23 tahun, dan sebagian besar diantaranya (13 tahun) beliau lakukan saat beliau tinggal di Mekah. Selama periode Mekah ini, beliau belum mengajarkan tatanan-tatanan sosial seperti ekonomi, hukum, politik, dan hubungan internasional sebagaimana indikator-indikator yang digunakan dalam penelitian ini. Lantas apa yang beliau ajarkan selama periode yang sangat panjang ini? Jawabannya, Ketauhidan. Sebuah pengakuan bahwa tidak ada yang lain yang layak disembah kecuali Allah SWT.

Mengapa Rasulullah SAW menghabiskan sebagian besar waktu kenabiannya hanya untuk masalah yang satu ini? Sayid Qutub, dalam bukunya yang fenomenal, Petunjuk Sepanjang Jalan (The Milestone; Ma’alim fi-l-Tariq) menyebutkan bahwa bisa saja Rasulullah SAW memulai dakwahnya dengan melakukan revolusi sosial dan menegakkan tatanan-tatanan sosial yang luhur. Jika ini beliau lakukan, niscaya beliau dapat berhasil mengingat beliau dikenal memiliki budi pekerti yang luhur sejak masih kecil dan juga memiliki dukungan sosial yang kuat pada saat itu. Tapi bukan jalan ini yang Allah perintahkan kepada Rasul-Nya. Diketahui-Nya bahwa keadilan sosial hanya akan dapat diwujudkan di dalam masyarakat, dari sumber iktikad yang lengkap, yang menyerahkan segala sesuatu kepada Allah SWT, sambil menerima dengan penuh kerelaan hati akan semua yang ditentukan Allah SWT di dalam berbagai masalah sosial.

Jika penelitian yang mengukur Islamicity Index ini mengklaim menggunakan azas-azas Islam yang fundamental sebagai indikator penelitiannya, lantas mengapa masalah ketauhidan ini tidak disinggung sebagai sebuah indikator penting?

Urusan teknis

Keberatan saya lainnya, yang lebih bersifat teknis, atas penelitian ini adalah berkaitan dengan pemilihan indikator pengukuran. Tidak dijelaskan disitu, misalnya, mengapa proporsi anggaran militer menjadi salah satu indikator pengukuran. Atau mengapa penerapan prinsip-prinsip Ekonomi Syariah yang bebas riba hanya mendapat satu poin, sementara indikator ekonomi lainnya jauh lebih banyak.

Di samping itu, dari pengalaman saya selama tinggal bertahun-tahun di negara-negara ‘maju’, saya merasa ada banyak penyakit sosial yang kronis yang tengah terjadi. Penyakit hedonisme misalnya, sudah membuat masyarakat di negara-negara maju terobsesi secara berlebihan dengan konsumerisme dan materialisme. Belum lagi penyakit-penyakit lainnya, individualisme yang telah mengkikis ikatan antara anggota keluarga; atau budaya sex bebas dan pornografi yang kelewat batas, hingga dengan mudahnya anak-anak dapat membaca (meskipun tidak membeli) majalah porno di supermarket atau mengkonsumsi tabloid-tabloid dengan gambar-gambar yang sama sekali tidak sesuai untuk anak-anak di stasiun-stasiun kereta yang disediakan secara gratis. Jika faktor-faktor ini dijadikan sebagai indikator juga, niscaya skor negara-negara ‘maju’ tersebut akan merosot.

Lantas bagimana…

Bukankah memang betul bahwa umat Islam memiliki banyak permasalahan yang harus ditunaikan? Bukankah memang betul bahwa umat Islam dapat belajar banyak dari negara-negara ‘maju’? Jadi kenapa harus berkeberatan dengan hasil penelitian ini?

Saya khawatir, penelitian-penelitian dan opini-opini semacam ini akan dapat membuat sebagian umat Islam beranggapan bahwa tidak mengapa jika umat Islam punya sedikit (atau tidak punya) kesalehan pribadi, yang penting memiliki kesalehan sosial yang tinggi. Apalagi sampai beranggapan, misalnya, tidak mengapa tidak sholat, yang penting kan punya kesalehan sosial.

Sesungguhnya bukan itu jalan yang seharusnya dituju. Sejarah telah menunjukkan, bahwa generasi-genarasi pertama umat Islam, yaitu para sahabat Rasulullah SAW, ditempa selama belasan tahun untuk mengukuhkan keyakinan atas keesaan Tuhan. Jika keyakinan yang kukuh mengenai keesaan Tuhan ini telah menghujam dalam sanubari seseorang, niscaya dia akan memiliki kesalehan pribadi, kesalehan sosial (atau kesalehan apapun namanya) yang sangat tinggi. Insya Allah, jalan inilah yang dapat kita tempuh untuk memperbaiki penyakit umat Islam.

Kesimpulannya

Sebagian hal yang disampaikan dalam penelitian ini harus kita akui memang benar adanya. Dan ini dapat menjadi pelajaran yang berharga bagi umat Islam untuk memperbaiki diri. Solusi yang fundamental harus dimulai dari menhujamkan keyakinan yang kuat atas makna ‘Tiada Tuhan selain Allah’.

Islam mendukung penerapan nilai-nilai yang universal seperti keadilan, kemanusiaan, pemberdayaan dan sebagainya. Tetapi tidak dapat dikatakan bahwa yang sudah menjalankan sebagian dari nilai-nilai universal ini berarti sudah menunjukkan keislamannya. Dan sebaliknya, nilai-nilai universal ini juga tidak dapat diklaim sebagai semata-mata milik Islam. Jadi, kenapa harus menggunakan kata Islamic dalam penelitian ini? Tapi jika dibaliknya ada agenda yang tersembunyi… ya… beda lagi urusannya.

Wallahu’alam bishawab.

Beberapa tahun yang lalu saya mendengarkan ceramah dari seorang Kyai ternama di Bandung. Wejangan beliau sangat dalam dan bermakna bagi saya. (lebih…)

Dosa pertama kali yang dilakukan manusia adalah dosa yang dilakukan Nabi Adam AS atas keingkarannya terhadap perintah Allah sehingga beliau diusir dari surga. Tetapi setelah menyadari dosa yang dilakukannya, Nabi Adam bertaubat dan berdoa kepada Allah. Doa ini sangat masyhur dan diabadikan dalam Quran surat 7 ayat 23. (lebih…)

Suatu hari di salah satu sudut kota Kendal, orang-orang berkumpul untuk mengiringi kepergian seorang yang sholeh, Bapak Akhyar, menuju peristirahatannya yang terakhir menghadap Sang Kholiq. Bapak Akhyar ini berprofesi sebagai seorang tukang pijat yang hidup sederhana. (lebih…)

Harga BBM baru saja naik, dengan kenaikan sekitar 30%. Bensin dari Rp 4500/liter menjadi Rp 6000/liter. Banyak yang memprotes kenaikan BBM ini. Dan banyak pula yang membuat teori tentang perhitungan subsidi BBM, misalnya Kwik Kian Gie dan Agus Nizami. Meskipun saya awam… boleh dong coba bikin teori sendiri. Teori saya begini.  (lebih…)

Beberapa waktu lalu saya pergi ke Tokyo menghadiri pernikahan mas saya. Alhamdulillah acara pernikahannya berjalan lancar dan meriah berkat solidaritas warga Indonesia yg tinggal di Tokyo. Ada pengalaman menarik yg ingin saya ceritakan disini. Pengalaman ini menunjukkan budaya orang Jepang yang konon memiliki etos kerja yang luar biasa. (lebih…)

Seorang rekan dulu berkata pada saya… background berwarna hitam di layar monitor itu lebih ramah lingkungan ketimbang background berwarna putih. Lho kenapa begitu? Karena background berwarna hitam memancarkan lebih sedikit cahaya, sehingga lebih hemat energi, karenanya lebih hemat lingkungan. Gak tahu benar atau gak… tapi rasanya masuk akal… meskipun gak tahu seberapa signifikan penghematan energi nya.

Any way… saya pikir gak ada salahnya dicoba, siapa tahu hitam lebih menarik, karena itu blog saya ini dulu warna nya hitam. Tapi lama kelamaan, saya merasa, kurang nyaman membaca tulisan putih di atas background hitam.

So… hari ini saya ubah background blog saya jadi warna putih. Semoga nambah semangat baca dan nulis. Udah berbulan-bulan nih blog ini gak ditulis lagi… he.. he.