Beberapa waktu lalu saya pergi ke Tokyo menghadiri pernikahan mas saya. Alhamdulillah acara pernikahannya berjalan lancar dan meriah berkat solidaritas warga Indonesia yg tinggal di Tokyo. Ada pengalaman menarik yg ingin saya ceritakan disini. Pengalaman ini menunjukkan budaya orang Jepang yang konon memiliki etos kerja yang luar biasa.

Waktu itu saya pergi ke Tokyo bersama Umi saya dan beberapa saudara dan kerabat. Umi menderita osteoarthritis (alias rematik) sehingga tidak bisa berjalan jauh, karenanya kami memutuskan untuk membawa kursi roda agar memudahkan beliau selama di perjalanan.

Pengalaman Pertama

Setiba di Narita airport, ada petugas yg membantu mendorong Umi dan memandu kami. Ketika tiba di imigrasi, saya mendampingi Umi bersama petugas tadi menuju ke counter khusus. Kerabat lain lewat imigrasi melalui counter normal. Karena lewat counter khusus, kami selesai lebih awal. Keluar imigrasi, petugas tadi menyuruh saya menunggu kerabat yg lain, sementara dia mendorong Umi ke lift utk turun ke lantai bawah. Dari lantai atas saya dapat melihat mereka. Lantai bawah adalah lokasi klaim bagasi. Saya pikir petugas tadi akan meninggalkan Umi disana. Tapi betapa terkejutnya saya, ternyata petugas tadi mengangkati bagasi kami yang lumayan banyak ke trolley sambil bertanya ke Umi mana saja bagasi kami. Kemudian dia masih menunggui ibu saya hingga kami selesai urusan imigrasi lalu bersama-sama keluar dari pintu bandara. Setelah itu baru kemudian dia mohon diri, tanpa nampak ada kesan berharap dapat tips. Japanese… I salute you, mengangkat bagasi itu bukan tugasmu, tapi dengan sukarela kamu melakukannya.

Pengalaman Kedua

Keluar dari Narita airport kami menuju stasiun kereta Narita utk pergi ke Tokyo. Mas saya membeli tiket kereta untuk kami semua. Lalu melihat Umi pakai kursi roda, petugas loket berkata bahwa dia akan panggil petugas untuk membantu Umi dan memandu kami. Di Tokyo, mungkin karena banyak stasiun tua, antara kereta dan platform tinggi nya tidak sama, sehingga diperlukan papan untuk menaikkan dan menurunkan kursi roda. Tak lama petugas yang dijanjikan itu pun datang. Dia memandu Umi untuk menggunakan lift sambil berkata bahwa nanti di stasiun-stasiun tempat kami pindah kereta dan turun kereta akan ada petugas yang membantu. Wooww. Benar juga, di stasiun-stasiun tempat kami pindah kereta dan turun kereta sudah ada petugas yang standby membantu Umi naik dan turun kereta lalu memandu kami untuk menggunakan lift. Kejadian ini terjadi bukan hanya saat itu saja, beberapa hari selanjutnya, setiap kali kami menggunakan kereta, kejadian yang sama berulang. Japanese… I salute you… excellent dedication.

Pengalaman Ketiga

Malam ketiga kami di Tokyo, setelah lega acara pernikahan sudah selesai dengan meriah. Kami berencana pergi ke Tokyo Tower. Dari hotel, Mas saya memesan 3 taksi untuk kami semua. Saat itu cuaca sedang kurang bersahabat, hujan dan gerimis sejak siang hari. Tak lama taksi pertama datang. Menurut informasi dari operator, taksi kedua dan ketiga akan datang agak lama kemudian, karena sedang peak hour (kalau tidak salah ingat, hampir setengah jam). Supir taksi pertama bilang, kita tunggu di hotel saja sampai semua taksi datang, kasihan kalau tunggu di Tokyo Tower dengan cuaca gerimis begini, dingin. Wooww… kok ada ya sopir taksi inisiatif mau tunggu tanpa diminta, argo nya gak dinyalakan lagi. Setelah menunggu lumayan lama, taksi kedua dan ketiga datang, dan kami pun berangkat dengan taksi beriring-iringan. Tiba-tiba ketika berhenti di sebuah perempatan lampu merah, sopir taksi yang saya naiki merasa perlu koordinasi dengan sopir taksi yang di depannya untuk memilih jalur yang lebih baik, tanpa ragu dia pun keluar dari taksinya, berlari-lari di tengah hujan ke taksi yang di depan mengatakan sesuatu dan kembali lagi. Woow… Japanese… I salute you. Memang mahal sekali sih tarif taksi di Tokyo, jarak nya tidak terlalu jauh, tapi argo menunjukkan hampir JPY 5000 (sekitar IDR 440 ribu atau SGD 65). Bahkan di Singapore pun jarak segitu mungkin hanya habis SGD 15. But stil… woow… excellent service.