Beberapa tahun yang lalu saya mendengarkan ceramah dari seorang Kyai ternama di Bandung. Wejangan beliau sangat dalam dan bermakna bagi saya.

Beliau berkata, bahwa sesungguhnya Allah itu sangat baik dan pemurah kepada kita berkaitan dengan pahala dan dosa. Allah sangat suka melipatgandakan pahala bagi hamba Nya. Jika kita melakukan sholat berjamaah maka pahala dilipatgandakan sampai 27 kali. Jika kita melakukan ibadah pada bulan Ramadhan pahalanya juga dilipatgandakan. Jika kita melakukan ibadah pada malam lailatul qadar maka itu lebih baik dari seribu bulan. Jika kita telah menikah, maka pahala amalan-amalan kita juga menjadi berlipatganda. Dan seterusnya, masih banyak lagi.

Tetapi sebaliknya dengan dosa. Kalau kita berniat melakukan kebaikan, maka Allah sudah mencatatnya sebagai pahala, kalau kita jadi melakukannya maka ditambah lagi pahalanya. Sedangkan kalau kita berniat melakukan keburukan, Allah belum mencatatnya sebagai dosa, baru setelah kita benar-benar melakukan dosa, Allah mencatatnya sebagai dosa.

Subhanallah, jadi Allah itu sangat obral memberikan pahala, dan pelit memberikan dosa. Seharusnya gampang dong masuk surga. Tapi kenapa kok masih banyak juga orang masuk neraka.

Menurut Kyai tersebut, salah satu permasalahannya adalah IKHLAS. Jika kita tidak ikhlas dalam melakukan sebuah kebaikan, maka terhapuslah pahala kebaikan tersebut. Ilmu ikhlas ini memang sulit sekali. Dan sering kali nafsu kita menipu dan menghalangi kita berbuat kebaikan dengan ikhlas. Ini yang membuat kita sering tidak sadar bahwa kita sedang tidak ikhlas melakukan sesuatu. Sering saya pribadi mengalami, setelah melakukan sebuah kebaikan, baru beberapa hari kemudian sadar bahwa ada sesuatu di hati dan pikiran yg telah merusak keikhlasan saya. Itu yang disadari, jangan-jangan masih banyak lagi amalan lain yang secara tidak sadar sebetulnya tidak ikhlas. Na’udzubillah.